Lubang Ketidakpastian

Hidup ini bagaikan lubang ketidakpastian

Tak pernah tahu yang ‘kan terjadi esok hari

Satu bulan, satu hari, satu menit

Satu detik dari sekarang pun kelanjutannya tak pasti

Namun ku temukan kenyamanan dalam ketidakpastian

Kenyamanan membuat kaki sulit melangkah

Kenyamanan membuat jiwa kian terlena

Kenyamanan menahan mata hati ku

Hidup terasa pasti

Pasti nyaman karena jaminan harta gemilang

Pasti nyaman karena kehadiran sahabat setia

Pasti nyaman karena pekerjaan mapan

Lupakah aku bahwa hidupku dalam lubang ketidakpastian?

Lubang yang setiap saat terbuka

Menelan kenyamanan

Menghilangkan kepastian

Masih adakah satu kepastian dalam ketidakpastian?

Kepastian yang bersifat kekal bukan fana

Kehidupan indah, nyaman, tanpa derita dan tangis air mata

Kehidupan yang seakan menemukan kumpulan cahaya terangnya

Tatkala kegelapan menunjukkan rupanya

Dimanakah tempat itu? Ku merindukannya!

Ku dengar bisik-Nya nan lembut

Semuanya telah Ku sediakan bagi mu, anak-Ku

Kepastian hidup hanya ada dalam nama-Ku

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus

Seiring hatiku tersentak, jiwaku tersadar

Sering ku lupa kepastian kekal-Mu

Sering ku kejar kepastian fana-ku

Sering ku berharap keduanya dalam sekali genggam

Namun semakin hari Kau membawaku melangkah

Semakin jauh dari tempat nyaman-ku

Semakin terang jalan dihadapan-ku

Aku melempar kepastian fana

Hingga tanganku memiliki ruangan sempurna

‘Tuk mengenggam tangan-Mu

‘Tuk berjalan bersama-Mu

Melewati lubang ketidakpastian tanpa cahaya

Menuju kepastian penuh cahaya

By : Shemalove

Mimpi yang Tertunda

Friends, ada yang pernah menilai betapa pentingnya “harga sebuah waktu”?

Jika kita ingin tahu, betapa waktu begitu berharga :

 

Tanyakan arti 0,1 detik bagi seorang juara lari

Tanyakan arti 1 detik bagi orang yang baru terhindar dari kecelakaan

Tanyakan arti 1 menit bagi orang yang ketinggalan kereta

Tanyakan arti 1 jam bagi sepasang kekasih saat bertemu

Tanyakan arti 1 bulan bagi seorang ibu yang melahirkan prematur

Tanyakan arti 1 tahun bagi murid yang tidak naik kelas

 

Wah, udah pasti dong mereka semua bakal kompak ngejawab,”waktu itu sangat penting dan berharga.” And so do I! Aku setuju banget sama statement diatas, khususnya statement terakhir “tanyakan arti 1 tahun bagi murid yang tidak naik kelas”. Eits, aku bukan lagi bergumul karena gak naik kelas sih. Soalnya masa-masa sekolah aku udah lewat. Hahahaha. But, lebih daripada itu.

Selama seminggu belakangan, aku menanti kabar dari sekolah tinggi, apakah aku masih bisa masuk kuliah disono. Singkat cerita nih ya, dosen disana ngomong,”Tar coba ditanya dulu ya sama bagian akademiknya. 5 hari lagi dikabarin. Soalnya saya lagi berangkat ke Medan.”

Oke,, dengan perasaan senang, takut, was-was, aku menanti kabar itu. Tak lupa diiringi dengan doa super khusuk. (Berarti kalo hari lain doanya gak khusuk? Hahaha, kidding).

Finally, kabar yang dinanti-nanti akhirnya membritakan hasilnya. Yak! Tarik napas dalam-dalam, tahan, hembuskan. Jeng jeng jeng! Hasilnya adalaaaahhh…….. DITOLAK! What? Gak salah denger nih? Ya, Anda ditolak! A-a-a-ku di-di-di-ditolak?

GLEGAR! Dunia seakan runtuh, seolah jiwaku diterbangkan ke langit tertinggi lalu dijatuhkan sampai ke lubang terdalam. Imanku bagaikan naik roller-coaster. Baru sebentar pengharapan berada di tempat terpuncak, namun seketika dihempaskan turun ke lembah rel tercuram dengan derasnya kecepatan angin. Aku tertegun, seolah semua ini hanyalah isapan jempol belaka.

“Kenapa ya aku ditolak? Kok bisa aku ditolak?”, tanyaku berulang kali dalam benakku. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kenapaaaaa??!!! Padahal banyak orang mengatakan aku seharusnya masih bisa masuk kuliah. Mereka baru mulai perkuliahan selama seminggu. Dan alasan aku gak bisa masuk di tanggal yang sama, itupun karena aku harus menyelesaikan kerjaan kantor. Namun ternyata, apa daya. Aku tak berdaya. Hasilnya tetep sama. Tetep tak seindah asa. Mau gak mau, suka gak suka, rela gak rela, aku harus menunggu lagi selama setahun. Setahun lho, bukan sebulan. Bukan waktu yang singkat, bukan pula waktu yang menyenangkan. Waktu itu berharga, betul?

Aku merasa bingung tak menentu. Aku merasa tiada berpengharapan. Masa depan terlihat blur. Masa kini terasa keset. Apa yang harus aku lakukan selama masa penantian ini? Mungkinkah tahun depan aku masih semangat untuk kuliah lagi? Umurku sekarang udah 22 tahun lho, sebentar lagi 23 tahun. Aku bukan termasuk dalam kategori usia muda. Temen-temen seusiaku udah pada kerja, udah dapet penghasilan wah, udah bisa kasih gaji ke ortu. Lha, aku? Malah baru mau kuliah s1 lagi. Tar temen-temen udah pada gendong anak, aku baru mau merit. Aduh, mama sayange!

Namun ditengah stress yang bergelora ini, aku temukan secercah pengharapan. Aku teringat dengan doaku yang super khusuk itu. Doa itu aku panjatkan tepat 1 hari sebelum pengumuman hasil akhir. Ya, aku doa minta Tuhan tutup jalan kalo memang Tuhan tau aku belum siap untuk kuliah lagi. Aku juga meminta Tuhan memampukan aku menerima apapun hasilnya. Ku akui, dalam lubuk hati terdalam, masih ada rasa sedih dan terluka. Namun disisi lain, ada secercah pengharapan yang ngebuat aku bersukacita. Hmm.. mungkin Tuhan mau selama 1 tahun ini, aku lebih fokus dalam dunia tulis-menulis sembari mempersiapkan kuliah kelak. Aku bisa les inggris dan piano lagi. Biar pas masuk kuliah aku bisa mengimbangi jam kuliah dan gak keteteran. Toh, sebenernya persiapan skill yang lebih matang, akan berujung pada persiapan hati yang lebih mantap. Yeah, belajar percaya kalo Tuhan itu bener-bener tahu apa yang terbaik buat anak-Nya. Masalah umur dan pasangan hidup? Woles saja. Toh yang terpenting ialah “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 33 : 6) Yup, minta, cari, dan ikuti dulu panggilan khusus Tuhan dalam hidup kita. Selebihnya akan Tuhan penuhi sesuai waktu-Nya.

Guys, aku nulis kesaksian ini bukan sok memotivasi, menyombongkan kedewasaan rohani, ato sok menasihati kalian, yang mungkin juga lagi punya pergumulan yang sama seperti aku. Nggak, sama sekali nggak. Aku tau gimana rasanya terpuruk dan dipandang lemah iman saat dilanda badai kehidupan. Meski aku tau Tuhan punya jalan-Nya sendiri untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup aku, aku tetep cuman manusia biasa. Masih ada hal manusiawi yang aku rasakan. Aku masih ngerasa sedih, terluka, terpuruk, dan meratap. Semua perasaan gak enak itu tetep aku rasain. Dan disini aku mau kasih tau, kalo meratap dan bersedih itu it’s oke! Coz semua itu hanyalah suatu bentuk respon atas musim kehidupan kita yang lagi down. Bukan berarti kita ini lemah iman jika kita bersedih dan meratap, malah semua perasaan cemen itu bakal buat kita semakin beriman. Karena kita tau, kita sadar, kita mengalami secara langsung bahwa Tuhan tetep ada di setiap musim kehidupan kita. Baik disaat musim penuh kemenangan, hingga musim penuh kekalahan.

So Guys, walau masa penantian ini terasa mencekam dan mimpi yang tertunda terasa menyayat hati. Namun, biarlah Tuhan memulihkan hati kita dengan siraman kasih dan anugerah-Nya. Biarlah dimasa penuh delay ini, kita sama-sama makin memahami apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. Amin?

 

Agar kita bisa menari dengan penuh sukacita,

terlebih dulu kita harus mengetahui

bagaimana rasanya menari dalam tangisan dukacita.

 

Allah tidak pernah punya plan B untuk kita,

tetapi Ia punya seribu cara untuk

mewujudkan plan-Nya dalam hidup kita.

(Benny Solihin)

 

Joseph waited 13 years

Abraham waited 25 years

Moses waited 40 years

Jesus waited 30 years

If God is making you wait, You’re in good company

201409051333