Mimpi yang Tertunda

Friends, ada yang pernah menilai betapa pentingnya “harga sebuah waktu”?

Jika kita ingin tahu, betapa waktu begitu berharga :

 

Tanyakan arti 0,1 detik bagi seorang juara lari

Tanyakan arti 1 detik bagi orang yang baru terhindar dari kecelakaan

Tanyakan arti 1 menit bagi orang yang ketinggalan kereta

Tanyakan arti 1 jam bagi sepasang kekasih saat bertemu

Tanyakan arti 1 bulan bagi seorang ibu yang melahirkan prematur

Tanyakan arti 1 tahun bagi murid yang tidak naik kelas

 

Wah, udah pasti dong mereka semua bakal kompak ngejawab,”waktu itu sangat penting dan berharga.” And so do I! Aku setuju banget sama statement diatas, khususnya statement terakhir “tanyakan arti 1 tahun bagi murid yang tidak naik kelas”. Eits, aku bukan lagi bergumul karena gak naik kelas sih. Soalnya masa-masa sekolah aku udah lewat. Hahahaha. But, lebih daripada itu.

Selama seminggu belakangan, aku menanti kabar dari sekolah tinggi, apakah aku masih bisa masuk kuliah disono. Singkat cerita nih ya, dosen disana ngomong,”Tar coba ditanya dulu ya sama bagian akademiknya. 5 hari lagi dikabarin. Soalnya saya lagi berangkat ke Medan.”

Oke,, dengan perasaan senang, takut, was-was, aku menanti kabar itu. Tak lupa diiringi dengan doa super khusuk. (Berarti kalo hari lain doanya gak khusuk? Hahaha, kidding).

Finally, kabar yang dinanti-nanti akhirnya membritakan hasilnya. Yak! Tarik napas dalam-dalam, tahan, hembuskan. Jeng jeng jeng! Hasilnya adalaaaahhh…….. DITOLAK! What? Gak salah denger nih? Ya, Anda ditolak! A-a-a-ku di-di-di-ditolak?

GLEGAR! Dunia seakan runtuh, seolah jiwaku diterbangkan ke langit tertinggi lalu dijatuhkan sampai ke lubang terdalam. Imanku bagaikan naik roller-coaster. Baru sebentar pengharapan berada di tempat terpuncak, namun seketika dihempaskan turun ke lembah rel tercuram dengan derasnya kecepatan angin. Aku tertegun, seolah semua ini hanyalah isapan jempol belaka.

“Kenapa ya aku ditolak? Kok bisa aku ditolak?”, tanyaku berulang kali dalam benakku. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kenapaaaaa??!!! Padahal banyak orang mengatakan aku seharusnya masih bisa masuk kuliah. Mereka baru mulai perkuliahan selama seminggu. Dan alasan aku gak bisa masuk di tanggal yang sama, itupun karena aku harus menyelesaikan kerjaan kantor. Namun ternyata, apa daya. Aku tak berdaya. Hasilnya tetep sama. Tetep tak seindah asa. Mau gak mau, suka gak suka, rela gak rela, aku harus menunggu lagi selama setahun. Setahun lho, bukan sebulan. Bukan waktu yang singkat, bukan pula waktu yang menyenangkan. Waktu itu berharga, betul?

Aku merasa bingung tak menentu. Aku merasa tiada berpengharapan. Masa depan terlihat blur. Masa kini terasa keset. Apa yang harus aku lakukan selama masa penantian ini? Mungkinkah tahun depan aku masih semangat untuk kuliah lagi? Umurku sekarang udah 22 tahun lho, sebentar lagi 23 tahun. Aku bukan termasuk dalam kategori usia muda. Temen-temen seusiaku udah pada kerja, udah dapet penghasilan wah, udah bisa kasih gaji ke ortu. Lha, aku? Malah baru mau kuliah s1 lagi. Tar temen-temen udah pada gendong anak, aku baru mau merit. Aduh, mama sayange!

Namun ditengah stress yang bergelora ini, aku temukan secercah pengharapan. Aku teringat dengan doaku yang super khusuk itu. Doa itu aku panjatkan tepat 1 hari sebelum pengumuman hasil akhir. Ya, aku doa minta Tuhan tutup jalan kalo memang Tuhan tau aku belum siap untuk kuliah lagi. Aku juga meminta Tuhan memampukan aku menerima apapun hasilnya. Ku akui, dalam lubuk hati terdalam, masih ada rasa sedih dan terluka. Namun disisi lain, ada secercah pengharapan yang ngebuat aku bersukacita. Hmm.. mungkin Tuhan mau selama 1 tahun ini, aku lebih fokus dalam dunia tulis-menulis sembari mempersiapkan kuliah kelak. Aku bisa les inggris dan piano lagi. Biar pas masuk kuliah aku bisa mengimbangi jam kuliah dan gak keteteran. Toh, sebenernya persiapan skill yang lebih matang, akan berujung pada persiapan hati yang lebih mantap. Yeah, belajar percaya kalo Tuhan itu bener-bener tahu apa yang terbaik buat anak-Nya. Masalah umur dan pasangan hidup? Woles saja. Toh yang terpenting ialah “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 33 : 6) Yup, minta, cari, dan ikuti dulu panggilan khusus Tuhan dalam hidup kita. Selebihnya akan Tuhan penuhi sesuai waktu-Nya.

Guys, aku nulis kesaksian ini bukan sok memotivasi, menyombongkan kedewasaan rohani, ato sok menasihati kalian, yang mungkin juga lagi punya pergumulan yang sama seperti aku. Nggak, sama sekali nggak. Aku tau gimana rasanya terpuruk dan dipandang lemah iman saat dilanda badai kehidupan. Meski aku tau Tuhan punya jalan-Nya sendiri untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup aku, aku tetep cuman manusia biasa. Masih ada hal manusiawi yang aku rasakan. Aku masih ngerasa sedih, terluka, terpuruk, dan meratap. Semua perasaan gak enak itu tetep aku rasain. Dan disini aku mau kasih tau, kalo meratap dan bersedih itu it’s oke! Coz semua itu hanyalah suatu bentuk respon atas musim kehidupan kita yang lagi down. Bukan berarti kita ini lemah iman jika kita bersedih dan meratap, malah semua perasaan cemen itu bakal buat kita semakin beriman. Karena kita tau, kita sadar, kita mengalami secara langsung bahwa Tuhan tetep ada di setiap musim kehidupan kita. Baik disaat musim penuh kemenangan, hingga musim penuh kekalahan.

So Guys, walau masa penantian ini terasa mencekam dan mimpi yang tertunda terasa menyayat hati. Namun, biarlah Tuhan memulihkan hati kita dengan siraman kasih dan anugerah-Nya. Biarlah dimasa penuh delay ini, kita sama-sama makin memahami apa kehendak Tuhan dalam hidup kita. Amin?

 

Agar kita bisa menari dengan penuh sukacita,

terlebih dulu kita harus mengetahui

bagaimana rasanya menari dalam tangisan dukacita.

 

Allah tidak pernah punya plan B untuk kita,

tetapi Ia punya seribu cara untuk

mewujudkan plan-Nya dalam hidup kita.

(Benny Solihin)

 

Joseph waited 13 years

Abraham waited 25 years

Moses waited 40 years

Jesus waited 30 years

If God is making you wait, You’re in good company

201409051333

Waktu Tuhan Bukan Waktu Kita

“Waktu Tuhan bukan waktu kita, jangan sesali keadaannya. Untuk semua ada waktu Tuhan, tetap setia mengandalkannya.” Yup, pasti udah pada tau ya sepenggal lirik lagu Maria Shandi yang berjudul “Waktu Tuhan”. Waaahh, lagu ini bener-bener JLEB lho di hati aku. Pertama kali aku denger lagu ini pas di kebaktian doa malam. Emang sih waktu itu aku lagi stress, galau, dan sedih. Jadi, ketika personil paduan suara (padus) nyanyiin lagu ini, aku merasa seakan-akan lirik lagu ini merupakan penghiburan dari Tuhan. Bener-bener menyentuh hatiku, bahkan sampai ke lubuk hati yang terdalam.

Di balik lagu ini, aku punya cerita tersendiri. Aku nyesel banget masuk kuliah jurusan Akuntansi. Andai waktu bisa diputar kembali, andai aku bisa kembali ke masa 5 tahun lalu, aku pasti mengubah pilihan kuliahku. Aku pasti nggak mau milih jurusan Akuntansi! Aku pasti milih jurusan Musik Gerejawi! Dan tentu, aku pasti sekarang udah lulus dari musik gerejawi, udah kerja di gereja sebagai seorang Hamba Tuhan. Kalo mau ikutin imajinasi, mungkin sekarang aku udah di panggil ‘Cuantau Vina”, bukannya “Cicik Vina”. Hahahaha. Yah, namanya juga berkhayal. Toh realita-nya, aku hanya seorang staff keuangan di gereja.

Aku nggak ngerti kenapa Tuhan membuat aku terdampar di situasi seperti ini. Tersesat di jurusan kuliah dan pekerjaan yang gak sesuai passion. Kenapa selama 5 tahun ini Tuhan nggak langsung mengubah haluan kapalku? Nggak langsung ngebuat aku kembali ke jurusan kuliah yang aku idam-idamkan? Aku nggak ngerti apa rencana Tuhan. Rasanya hidupku membosankan dan nggak ada masa depan. Tak bisa dibayangkan kalo 5 tahun ke depan aku tetep berkecimpung dalam dunia angka-angka, tambah-kurang, kali-bagi, debit-kredit. ARGH! Mau langsung resign-pun gak segampang yang dipikirkan, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Segala kuk yang kupikul ini, pada akhirnya mendatangkan penghiburan Tuhan yang tepat waktu. Dan lagu “Waktu Tuhan” benar-benar menyayat hatiku. Lagu itu menyadarkanku untuk kembali berharap sama Tuhan dan ngandalin Tuhan senantiasa. Percaya kalo waktu Tuhan yang akan membuat segalanya indah pada waktu-Nya. Oneday, jika sesuai dengan agenda-Nya, Tuhan akan meletakkanku di tempat kuliah ato kerja yang sesuai passion. Meskipun sekarang ini semuanya terlihat mustahil, nggak ada jalan, dan nggak ada pintu yang terbuka. Asal ku tetap setia dan berharap penuh, Dia mampu menolong tepat pada waktu-Nya.

Yup guys, kita semua punya pergumulan yang berbeda. Mungkin ada yang punya kisah serupa seperti aku, ato mungkin ada yang lain versi. Tapi yuk kita sama-sama belajar memercayai Tuhan, khususnya memercayai waktu-Nya yang selalu on time. Tuhan nggak mau juga kalo kita nyesel mulu, melihat ke belakang terus-terusan, dan terjebak dalam masa lalu. Kita semua pernah kok buat keputusan yang salah ato gak bijak. Tuhan memaklumi dan memaafkan ketika kita mengakui dihadapan-Nya. Sedih boleh, kepikiran nyesel lagi juga manusiawi kok. Tapi, ayo, kita sama-sama kembali fokus ke masa depan yang Tuhan janjikan. Saat-saat serangan penyesalan datang kembali, mari naikkan doa dan pujian kita yang mengatakan,”Segala yang terjadi di hidupku, janji Tuhan menghidupiku s’lalu. Ku yakin, percaya ada waktu-Nya Tuhan. Semua kan indah pada waktunya”. Ada amin?

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengk 3 : 11)

god's timing

Sang Penanti Mimpi

Aku menanti datangnya hari itu

Aku merindu setiap hal yang kan terjadi

Aku meniti segalanya demi selangkah lebih dekat dengan mimpi

Mimpi dimana pekerjaanku melibatkan segenap hati dan pikiran

Hingga aku melupakan pijakan kaki

Melupakan waktu yang memanggil datangnya senja

Mimpi dimana bukan harta yang kucari

Tapi panggilan hidup yang ku dapat

Panggilan mulia dari Sang Pemberi Mimpi

Ku tak tahu kapan mimpi kan menunjukkan cahaya nyatanya

Yang ku tahu

Mimpi perlu semangat luar biasa yang menggerakan kerja keras

Dan meski mimpi memberi rasa sakit tiada tara

Memberi derita yang tak tertahankan

Namum mimpi memberiku arti sebuah penantian

Mengajarku mencintai di tengah penantian sulit

Mengajakku berjalan jauh, sangat jauh

Berjalan dalam keheningan yang menyenangkan

Aku, sang penanti mimpi

Kan terus bermimpi, kan tetap menanti

Karna tanpa dinanti, mimpi kan tersisih

By : Shema Love

 

Refleksi :

Sebenarnya ini puisi pertamaku. Aku nggak tahu gimana caranya mengungkapkan perasaan hati melalui puisi. Maklum, biasanya nulis artikel doang. Hehehe. Tapi aku cuma mau berbagi sama kalian,  mungkin ada diantara kita yang hari ini merasa tertekan dengan pekerjaan atau jurusan kuliah yang nggak sesuai passion. Duh, rasanya capek banget ya kerja kayak itu. Menguras energi jasmani dan rohani. But, don’t ever give up guys! Teruslah bermimpi, tetaplah menanti! Meski rasanya melelahkan.. Tapi itu semua akan terbayar harganya di masa yang akan datang. Tuhan menyertai kita semua! 🙂 Jangan putus asa dan tetap berdoa. Next time aku bakal share yang lebih lengkap. Hehehe. See you guys! Happy weekend!